Show me your feelings are about to burst
Tell it to me you fool
Si Ganteng
versi ibu saya


Ayo Ngobrol
Tak Kenal Maka Tak Sayang
Cbox here. < 200px.
Terima Kasih
Kepada Pembuat Template Ini
Layout, icons, and pixel background coded/created Gabby. Images from wehearit. Inspiration from nic96ole and disasterf-all. All content belongs to cucumblr.blogspot unless stated so.
Posted on
<$BlogDateHeaderDate $>
RI-. . .
Mobil sedan putih itu meliuk-liuk di hadapan mobil saya yang sedang melaju di dalam Tol Dalam Kota Jakarta. Hiasan merah-biru di sisi dan kap mobilnya terlihat dengan jelas menyalak ke semua mata pengemudi disana.

Lalu sang mobil polisi tersebut berhenti. Tepat sebelum pintu masuk tol berikutnya. Otomatis menghentikan perjalanan saya, dan membuat semua kaca mobil terbuka dan semuanya melongok hendak tahu ada apa.

Sementara itu di sisi kiri saya, puluhan mobil berjalan beriringan keluar dari jalur masuk tol dalam kota. Diminta atau entah dipaksa untuk meneruskan perjalanannya di jalur biasa alih-alih menempuh perjalanan lebih cepat lewat tol yang tersedia.

Semua polisi lalu lintas berseragam lengkap dengan vest hijau kuning mereka terlihat sibuk.

Dan kemudian dari jalanan yang sudah kosong muncul melaju mobil hitam mewah dengan kencangnya. Secara mentereng menyandang plat bertuliskan RI31. Saya tidak tahu persis siapa ia, yang saya tahu dia pejabat, selevel menteri mungkin. Lalu dengan sekejap mata ia, disusul oleh mobil-mobil para pengawalnya yang juga hitam mengkilat, meninggalkan kami semua yang masih terdiam menunggu di sana. Meninggalkan juga pengemudi-pengemudi mobil lainnya yang terpaksa menambah panjang atau mungkin justru menimbulkan kemacetan di jalur biasa tepat di sisi kirinya.

Kemacetan sepanjang paling tidak 2 km jauhnya.

Lalu saya berpikir sejenak, apa yang ia pikirkan ketika kepalanya menoleh sedikit ke kiri dan melihat suatu fenomena yang ditimbulkan hanya karena ia harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sebuah kemacetan yang jelas-jelas ia timbulkan.

Saya tak heran jika kemacetan Jakarta tak pernah berakhir.

Karena pejabat-pejabatnya tidak pernah tahu bagaimana rasanya tertahan diam di jalanan.

Karena pejabat-pejabatnya hanya mengambil opsi untuk melihat bukan merasakan.

Labels: , , , , ,