|
Show me your feelings are about to burst
Tell it to
me you fool
|
|
Si Ganteng
versi ibu saya
Ayo Ngobrol
Tak Kenal Maka Tak Sayang
Cbox here. < 200px.
Terima Kasih
Kepada Pembuat Template Ini
Layout, icons, and pixel background coded/created Gabby. Images from wehearit. Inspiration from
nic96ole and disasterf-all.
All content belongs to cucumblr.blogspot unless stated so.
|
Posted on
<$BlogDateHeaderDate $> Rumah Ini Dijual
Hari ini saya banyak bersinggungan dengan elemen-elemen masa kecil saya. Masa kecil yang saya habiskan secara penuh , baik secara waktu maupun kebahagiaan, di kota Cirebon. Ya, di perumnas Cirebon.Hari ini setelah sekian lamanya saya bertengger di dalam rumah, saya pun menghirup udara sekitar rumah yang mengisi paru-paru saya 18 tahun lamanya. Kenapa saya berdiam diri terus di rumah, well itulah masalah orang seusia saya, dengan semua teman yang saya miliki sedang mengarungi jalan hidupnya masing-masing, merantau dari kampung halaman, mencari peruntungan di tanah orang, atau bahkan membina keluarga baru entah dimana. Intinya, sejauh pengetahuan saya tidak ada teman masa kecil saya, yang sedang berada di sini, jadi buat apa saya keluar. Namun kewajiban yang dibalut dalam bentuk solat Jumat membawa saya menelusuri jalan setapak persis di depan rumah saya yang langsung berujung di mesjid yang menjadi saksi betapa religiusnya saya. Hahahahaha. Dan tepat disamping jalan setapak tersebut terbentanglah sebuah lapangan, entah apakah sekarang tempat itu layak disebut lapangan atau tidak. Lapangan dimana saya dan semua teman masa kecil saya menghabiskan waktu bermain bola disana. Ya, disanalah saya mengasah teknik brilian ala Lionel Messi yang sampai sekarang tetap terkumpul di kedua kaki saya ini. Lapangan yang begitu hangat. Namun sekarang, yang ada hanya rumput ilalang. Yang jelas, saya yakin sudah tidak pernah ada yang menyentuh lapangan tersebut berbulan-bulan lamanya. Setelah solat Jum’at, ketika hendak melangkahkan kaki keluar dari masjid Nurrohman, nama masjid didaerah saya, pandangan saya teralih sejenak oleh sosok yang familiar dimata. Ah, ternyata teman saya. Teman akrab saya yang tertua. Ketika saya kecil dulu, dia lah pemimpin kami semua. Terpaut sekitar 6-7 tahun di atas saya, ia yang biasanya menentukan kemana kelompok kecil kami harus pergi, permainan apa yang harus kami lakukan, dan kapan harus berakhir. Skill sepakbolanya sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia selalu bermain dengan teknik-teknik yang sebelumnya hanya pernah saya lihat di layar kaca. Salto, heel kick, atau tendangan gunting nampaknya perkara mudah buat dirinya. Namanya Ari. Saya biasanya memanggilnya dengan embel-embel mas. Dan saya masih ingat betul saat dimana ia akan pergi meninggalkan Cirebon guna menuntut ilmu di Bogor sana. Kami semua berkumpul dan melakukan suatu perjalanan ritual yang sering kami lakukan di akhir pekan, perjalanan menembus hutan, sebuah perjalanan kehormatan buat dirinya. Sayangnya, ia sedang khusyuk berdoa. Tak enak rasanya jika saya mengganggu. Dan saya pun hanya lewat begitu saja, langsung berjalan lurus menuju pintu keluar, mengambil dan memakai sendal saya, lalu berjalan pulang melalui jalur yang berbeda. Jalur ini ada diseberang sang lapangan. Melewati rumah yang dulunya adalah rumah kakek dan nenek saya, kemudian rumah salah satu teman saya, dan tepat disebelahnya rumah Mas Ari. Langkah saya yang perlahan membuat saya dapat dengan jelas membaca tulisan print yang tertempel di dinding rumahnya. RUMAH INI DIJUAL. Kagetlah saya. Hidup memang berputar, namun saya tidak pernah menyangka bahwa putaran roda hidup ini bisa membuat saya sedih. Sedih saya melihat tanpa tersebut terpampang disana. Saya yang bahkan bukan pemilik rumahnya sedih. Aneh ya. Saya berhenti sejenak di depan rumah tersebut, dan sel-sel kelabu di otak saya berputar cepat membawa saya ke semua bagian di dalam otak saya ini yang menyimpan semua kenangan masa kecil saya. Saya masih ingat, rumah tersebut adalah rumah pertama yang bertingkat 2 di lingkungan sekitar saya. Rumah pertama dengan mobil yang bertengger di garasinya, bahkan rumah pertama dengan garasi. Saya masih ingat bahwa di dalam rumahnya ada pintu kayu ala koboi, yang jika didorong akan kembali menuju titik semulanya dengan begitu cepat. Saya ingat di halaman rumah tersebut lah saya pertama kali memenangkan pertandingan catur tingkat ke RW, kemenangan pertama dan terakhir saya. Saya juga ingat disanalah, di halaman yang sama, saya melihat doppelganger dari Ibu Mas Ari yang menurut pengakuan Mas Ari sedang sibuk memasak didapur sana. Tapi hidup memang berputar. Bisa apa kita, selain menerimanya. |