|
Show me your feelings are about to burst
Tell it to
me you fool
|
|
Si Ganteng
versi ibu saya
Ayo Ngobrol
Tak Kenal Maka Tak Sayang
Cbox here. < 200px.
Terima Kasih
Kepada Pembuat Template Ini
Layout, icons, and pixel background coded/created Gabby. Images from wehearit. Inspiration from
nic96ole and disasterf-all.
All content belongs to cucumblr.blogspot unless stated so.
|
Posted on
<$BlogDateHeaderDate $> Usangnya Kabel Kita
Mari kita buka tulisan ini dengan mengucap puji syukur tiada henti kepada Allah swt. Kenapa? Karena atas berkat rahmah serta siraman hidayah-Nya, saya dan beberapa orang, yang secara ikatan takdir diharuskan untuk menempuh jenjang berikutnya dalam hidup kami, yaitu masa Kerja Praktek di PT. Telekomunikasi Indonesia Divisi Transmisi Backbone Arnet Semanggi Netre Jakarta, mendapatkan beberapa macam keberuntungan di pagi hari ini. Tepat di hari kelima semenjak masa Kerja Praktek kami mulai.Keberuntungan yang pertama adalah : Bapa Pembimbing kami ada di tempat, bahkan tepat di hidung kami hari ini. Keberuntungan yang kedua : Beliau memberikan kami pekerjaan. Seperti yang sudah ditulis saya di postingan-postingan sebelumnya, kami (saya, aga, pedca, dan kewer) hanya dihadapkan pada suasana gabut yang hanya bermanfaat dalam semakin menimbunnya banyak lemak di perut dan sekitarnya akibat suapan nasi goreng yang tiada kira. Namun hari ini, nampaknya lembaran baru dimulai. Pembimbing KP kami sigap sekali hari ini, dan tanpa banyak cakap langsunglah kami diberi pekerjaan yang benar-benar teknis. Kami dimasukkan ke dalam ruangan berjudul RUANG TRANSMISI. Ruang bersuhu konstan 18 derajat celcius yang beroperasi 24 jam penuh yang berisikan semua alat yang menunjang sistem komunikasi se Indonesia. Oke saya ulangi, se-Indonesia. Iseng sedikit, habis sudah sistem komunikasi di Indonesia, dan entahlah berapa miliar uang yang akan melayang. Secara umum pemandangan di dalam ruang transmisi ini dipenuhi oleh jalinan kabel. Di sisi kiri hanya ada kabel, di kanan kabel, di atas kabel, oleh karena itu setelah menetapkan di dalam hati bahwa kabel adalah teman, maka kami mulai pekerjaan kami. Kami diminta untuk mengukur redaman dari serat optik yang melintas di bawah tanah sejauh 55 km dari Semanggi ke Cikupa. Total semuanya ada 46 core yang melintas di sana. Namun karena yang dipakai hanya sebanyak 36 core maka hanya core 1 hingga 36 lah yang kami ukur. Pengukurannya menggunakan sebuah alat bernama OTDR (Optical Time Domain Reflector). Dengan alat ini dapat diketahui nilai redaman dari masing-masing core yang digunakan, dan dapat diketahui juga informasi misalkan ada serat optik yang putus di jalan, dan dengan detailnya dapat diketahui pada kilometer ke berapakah sang serat optik putus. Dari hasil yang kami dapatkan terlihat sudah begitu usangnya semua kabel yang digunakan, entah sudah berapa puluh tahun ia mengendap di bawah tanah sana. Dari redaman yang idealnya hanya 0.2 dB/km, rata-rata pengukuran menghasilkan redaman 0.5 dB/km. Nyaris 2 kali lipatnya. Namun apa boleh buat penanaman kabel yang berongkos mahal menyebabkan kabel tersebut memang belum berencana untuk diganti. Dan hebatnya, ongkos yang mahal tersebut sebagian besar hanya diakibatkan oleh birokrasi di Indonesia yang penuh dengan kantong-kantong pejabat yang kelaparan. Ibarat kata, serahkan dulu upeti anda, baru silahkan gali tanah saya. Menyedihkan. |